Dia sangat menderita dalam kepanasan, lalu dia memohon kepada bara api, "Bara api yang baik, dapatkah engkau menurunkan sedikit suhu panasnya ?"
Bara api tidak tahan melihat penderitaan besi dan permohonannya, akhirnya dia menurunkan sedikit suhu panasnya.
Tidak lama kemudian, besi ini diangkat dari tungku api dan ditaruh diatas plat baja.Lalu palu dengan keras memukul kearah besi panas. Besi panas tidak tahan lagi, dia memohon sekali lagi kepada palu,
"Dapatkah engkau memukul dengan agak perlahan dan lambat sehingga penderitaan saya agak berkurang, pukulanmu menyakiti saya !"
Palu juga tidak tahan melihat besi yang terus menerus memohon, akhirnya menuruti permintaannya.
Akhirnya besi tersebut setelah berkali-kali dimasukkan ke tungku api dan di palu dapat keluar dari pabrik, tetapi tidak lama kemudian, dengan sekujur tubuh penuh dengan karat dia dikembalikan ke pabrik. Ketika sekali lagi dia sampai di pabrik melihat api di tungku, dengan menyesal dia berkata, "Sekarang saya baru mengerti, kesulitan dalam proses kehidupan ini, tidak dapat dihindari, kehidupan terus berlanjut, dan akhirnya setelah masanya habis akan lenyap.
Coba dipikirkan dalam kehidupan kita ini banyak cobaan yang menyakitkan dalam peningkatan watak dan moral kita, terkadang akan sangat menderita tersiksa kesakitan baik lahir maupun batin yang tidak akan dilupakan seumur hidup. Kita akan selalu untuk menyalahkan hambatan yang membuat kehidupan kita jauh lebih sulit lagi, tetapi setelah semua hal tersebut berlalu, kita memalingkan kepala melihat kembali kehidupan yang telah kita lalui, jika dalam perjalanan tersebut tidak ada batu sandungan, maka hidup kita akan hambar dan tidak akan memiliki pengalaman hidup yang kaya, sudah tentu tidak akan memiliki kebijaksanaan yang lebih tinggi untuk mengatasi kesulitan di masa yang akan datang.
Coba dipikirkan dari titik lain, yang disebut kesulitan, kesakitan hanya batu loncatan yang bisa meningkatkan watak dan moral kita. Meskipun prosesnya sulit, tetapi dapat memoles terang kepribadian kita, meningkatkan kemampuan yang tersimpan didalam jiwa kita.
Potongan besi ini harus berterima kasih kepada palu dan bara api, dan kita juga harus berterima kasih kepada orang, benda, dan segala hal yang memberi kita ujian dalam kehidupan kita ! Kita tidak boleh karena hambatan dan kesulitan didalam kehidupan ini lalu mengeluh, menyalahkan, menyesali hal yang sudah lewat, karena mereka dapat meningkatkan pahala kebajikan kita apabila kita bisa menghadapinya dengan maha sabar. [Erlina Goh / Jakarta] Sumber: Erabaru