KEHIDUPAN | TIONGHOANEWS


Selamat datang berkunjung dalam situs blog milik warga Tionghoa Indonesia. Disini kita bisa berbagi berita tentang kegiatan/kejadian tentang Tionghoa seluruh Indonesia dan berbagi artikel-artikel bermanfaat untuk sesama Tionghoa. Jangan lupa partisipasi anda mengajak teman-teman Tionghoa anda untuk ikutan bergabung dalam situs blog ini.

Jumat, 13 Januari 2012

MENJANGAN MENYELAMATKAN SEBUAH KELUARGA

56 tahun yang silam, atau ketika tahun 1910 Tiongkok, di sebuah tempat Tou Bian Keng tengah provinsi setempat, terdapat sebuah kisah legendaris yang nyata. Ada sebuah keluarga yang tinggal di pegunungan, tepat pada hari ke-6 setelah menyelesaikan upacara pernikahan, pada saat sekeluarga sedang sembahyang leluhur, tiba-tiba dari luar seekor menjangan yang panik menerobos masuk ke dalam.

Ternyata menjangan ini dikejar oleh seorang pemburu yang diiringi anjingnya, sekilas menjangan itu menemui jalan buntu menyelamatkan nyawanya, lalu menerobos masuk ke rumah keluarga tersebut dan sembunyi di bawah meja dewa dan leluhur.

Sang pemburu bergegas lari menyusul hingga tiba di rumah keluarga tersebut, dan hendak meminta kembali menjangan itu, saat itu pengantin wanita merasa aneh, mengapa ketika keluarganya sedang sembahyang leluhur, datang seekor menjangan, sehingga ia menyarankan kepada mertua perempuan jangan mengembalikan binatang itu kepada pemburu, mungkin dia memiliki takdir pertemuan yang bagaimana dengan keluarga mereka, jika tidak, mengapa tidak pergi ke hutan yang luas itu, kenapa menyelamatkan diri dan masuk ke rumahnya, karena itu ia merasa harus menyelamatkan menjangan terserbut.

Saat itu, sang mertua juga merasa perkataan menantunya ada benarnya, maka ia juga tidak ingin mengembalikan menjangan tersebut kepada pemburu, akan tetapi pemburu mengatakan: "Menjangan itu adalah hasil kejaran saya, sekalipun lari ke rumah Anda, jika bukan saya yang memberi pengarahan pada anjing pemburu mengejarnya, maka menjangan juga tidak akan menampakkan diri, dan jika kalian tidak mengembalikan menjangan itu, maka harus dibeli dengan harga yang setara, dan saya akan lepaskan menjangan itu." Saat itu, pemburu saling berdebat dengan tuan rumah penghuni gunung, dan mau tidak mau pengantin wanita bertanya pada pemburu: "Seandainya mau dibeli, berapa harganya?" Pemburu mengatakan: "Cukup 20 keping perak saja." Dan di saat itu, begitu sang mertua mendengarnya, dalam hati bergumam: "Saya melamar menantuku, seluruhnya hanya menghabiskan 15 keping perak, sementara untuk seekor menjangan saja, tak disangka harus dihargai 20 keping perak."

Sang mertua bermaksud mengembalikan menjangan tersebut, namun menantu tetap mempertahankan maksudnya untuk menolong menjangan itu, kemudian membujuk lagi sang mertua, agar berusaha menyelamatkannya. Dikarenakan sang menantu baru saja dinikahi anaknya dan tinggal bersamanya, maka sang mertua tidak bisa menolak, sehingga terjadi tawar-menawar dengan pemburu, dan ketika senja akan tiba, kurang lebih tawarannya yang sekitar 15 keping perak baru bisa disetujui oleh pemburu untuk melepas menjangan itu. Namun wajah sang mertua menampakkan rasa enggan, lalu berkata pada menantunya: "Keluarga kami melamarmu menghabiskan 15 keping perak, lainnya masih meminjam 4 keping perak, lalu dari mana keluarga kami mendapatkan 15 keping perak untuk membeli menjangan itu?" Dan di saat demikian, si pengantin wanita memberitahu kepada sang mertua: "Tidak apa-apa, asal saja Anda berdua setuju membeli menjangan ini, tidak perlu mencemaskan tidak ada perak, saya sendiri bersedia mengeluarkan mas kawin kontan 15 perak, seluruhnya dikeluarkan untuk membeli menjangan ini." Melihat maksud menantu begitu teguh, mau tidak mau mertua setuju membeli menjangan itu, dan si pemburu pergi setelah mendapatkan uangnya. Pengantin wanita kemudian memanggil menjangan keluar dari bawah meja leluhur, dan melipur sejenak sang menjangan dengan membelai-belai kepalanya, menjangan merasa terhibur dan seolah-olah berterima kasih, meloncat perlahan beberapa kali, lalu berlari dan lenyap menuju gunung.

Dalam sekejap saja, berita mengenai sang pengantin wanita menolong seekor menjangan tersebar di seluruh pelosok desa, dan tetangga kiri-kanan, tidak ada yang tidak menertawakan. Mengapa begitu bodohnya pengantin wanita itu, di luar dugaan menghabiskan dana yang begitu besar untuk membeli menjangan dan dilepaskan. Terlebih lagi keluarga si pengantin yang sangat mencelanya, namun si pengantin tidak menghiraukan mereka, biarkan saja mencela sesukanya. Pada musim semi setelah 2 tahun berlalu peristiwa itu, si pengantin wanita melahirkan seorang bayi laki-laki yang belum genap setahun, ketika keluarga sedang sibuk-sibuknya, di tengah malam bayi tersebut diistirahatkan di atas tempat ayunan.

Pada saat itu, sang menjangan muncul lagi, bahkan dengan menggunakan tanduk di kepalanya mengapit tempat ayunan yang berisi bayi tersebut, dan setelah berputar 2 lingkaran di halaman, lalu lari keluar. Dan setelah keluarga bayi itu melihat menjangan membawa lari sang bocah, kemudian semua orang mengejarnya, setelah pengejaran sampai di luar gunung, tiba-tiba terdengar sebuah suara yang sangat keras, dan begitu berpaling, bukan saja melihat gunung yang berada di belakang rumah longsor, bahkan telah menutupi seluruh isi rumah. Pada saat itu, keluarga bayi tersebut menyaksikan sendiri pemandangan ini, dan baru menyadari ternyata adalah si menjangan yang demi untuk membalas budi si pengantin wanita yang pernah menolongnya, maka sengaja menculik 'sang anak' untuk memancing mereka sekeluarga keluar dari area bencana tersebut. Dan setelah melihat maksudnya tercapai, lalu dengan perlahan-lahan menjangan meletakkan sang anak, kemudian berlari masuk ke gunung terpencil, bersembunyi dan lenyap seketika.

Sejak terjadinya bencana itu, dan dikarenakan tempat itu ditutupi oleh tanah longsor, penduduk yang belum mengalami bencana pindah ke tempat lain, sehingga tempat tersebut menjadi sebidang tanah yang serba tandus, tidak ada tanda-tanda kehidupan. Setelah terjadinya kisah yang mengharukan ini, orang-orang baik warga di sekitarnya maupun dari tempat yang jauh semuanya menyadari secara mendalam bahwa binatang juga berinteligensi, dan jika saja bukan dikarenakan sekeping hati si pengantin wanita yang baik waktu itu, yang tidak sayang-sayang mengeluarkan uang yang banyak untuk menolong jiwa sang menjangan, mungkin mereka sekeluarga sulit untuk menghindari malapetaka tersebut. [Yesline Lao / Timika]

ARTIKEL YANG BERKAITAN

Mari kita dukung kiriman artikel-artikel dari teman-teman Tionghoa, dengan cara klik "SUKA" dan teruskan artikel kesukaan Anda ke dalam facebook, twitter & googleplus Anda.

TERBARU HARI INI

ARTIKEL: INTERNASIONAL

ARTIKEL: BUDAYA

ARTIKEL: KESEHATAN

ARTIKEL: IPTEK

ARTIKEL: KISAH

ARTIKEL: BERITA