KEHIDUPAN | TIONGHOANEWS


Selamat datang berkunjung dalam situs blog milik warga Tionghoa Indonesia. Disini kita bisa berbagi berita tentang kegiatan/kejadian tentang Tionghoa seluruh Indonesia dan berbagi artikel-artikel bermanfaat untuk sesama Tionghoa. Jangan lupa partisipasi anda mengajak teman-teman Tionghoa anda untuk ikutan bergabung dalam situs blog ini.

Jumat, 09 Desember 2011

GENGSI DAN KUE JAGUNG

Musim gugur tahun itu, saya dan adik diterima masuk sekolah SMU favorit di provinsi kami, bertepatan dengan ayah kami sedang dirawat di rumah sakit. Demi mendapatkan uang pengobatan bagi ayah, keluarga kami telah menjual habis segala benda berharga, masih juga mempunyai hutang 2.000 yuan lebih.

Ketika menerima surat panggilan dari sekolah, ibu sangat gembira namun juga sedih. Gembira, karena kami anak desa pertama kali bisa sekolah di SMU favorit itu, sedangkan yang dicemaskan ibu, uang sekolah sudah tersedia tetapi uang makan tidak mencukupi.

Menghadapi kesulitan keluarga dan kegelisahan ibu, saya sebagai anak sulung mengambil keputusan keluar sekolah dan mencari nafkah untuk membantu keluarga. Setelah ibu mengetahui keputusan saya, beliau bersikeras tidak menyetujuinya. "Meski betapa miskinnya keluarga, kamu juga harus bersekolah, uang makan tidak sanggup dipenuhi tidak mengapa, kita bisa membawa bekal kue ke sekolah." Kue yang disebut ibu bukanlah kue putih yang terbuat dari tepung beras melainkan adalah kue kuning yang terbuat dari jagung.

Ibu pergi ke sawah mengambil beberapa tongkol jagung, lalu mengupas biji jagung yang baru saja matang, dan merendam biji-biji jagung itu dalam air, sampai mengembang lantas digiling hingga menjadi bubur jagung, terakhir diletakkan ke dalam kuali untuk dipanggang. Malam sebelum masuk sekolah, ibu memanggang kue jagung itu.

Ketika kami berdua akan berangkat ke sekolah, ibu memasukkan bekal kue jagung kuning yang dipanggangnya semalaman dan satu botol sayur asin ke dalam tas kami, seraya berkata, "Kue jagung ini cukup untuk makan kalian berdua selama satu minggu, setelah habis kalian boleh pulang ke rumah untuk mengambilnya lagi." Saya dan adik naik sepeda tua, dengan berbekal kue jagung kami berangkat ke kota provinsi untuk menuntut ilmu.

Setengah hari kami mengayuh sepeda baru sampai ke sekolah. Hari pertama makan siang di sekolah, kami baru mengetahui peraturan sekolah tidak memperbolehkan makan dalam asrama, harus di ruang kafetaria sekolah. Lantas kami mengeluarkan beberapa potong kue jagung kuning dan di tengahnya kami sisipi sayur asin dan membawanya ke ruang kafetaria.

Makanan yang tersedia di kantin sekolah sangat mewah bagi anak desa seperti kami, ada roti, cah sayur dan susu sapi segar. Melihat teman-teman sekolah menyantap makanan dengan nikmat, tak tertahankan saya menengok makanan yang ada di etalase, dalam hati berpikir alangkah nikmatnya jika saya bisa menikmati roti mantau yang putih itu. Tetapi saya hanya bisa membayangkannya saja, karena kami tidak mempunyai uang bekal yang cukup. Lalu kami mencari tempat duduk kosong dan memakan bekal kue jagung dengan kepala tertunduk.

Saat asyik makan, datang beberapa murid dari kota yang berpakaian bagus duduk di samping kami, ketika mereka melihat kue yang kami makan adalah kue jagung kuning, setiap orang menatapkan pandangan yang penuh ketidakpahaman. Saya lantas menganggukkan kepala menyapa mereka, lalu melanjutkan makan kue jagung lagi. Tidak disangka beberapa murid kota itu, sangat tertarik dengan kue jagung yang saya makan.

Salah satunya menghampiri dan berkata sambil menepuk pundak: "Sobat, melihat penampilan kalian pasti datang dari desa, sudah zaman apa sekarang kok masih makan makanan seperti itu, pasti daerahmu mengalami musibah paceklik ya." Lalu salah seorang dari mereka menyodorkan bekal nasinya ke arah saya dan berkata: "Melihat kamu, saya sungguh merasa kasihan sekali, sebagai kakak tertua ingin memberi bantuan kepada saudara yang mengalami musibah."

Kemudian beberapa teman-teman yang lain tertawa terbahak-bahak sehingga menyebabkan semua orang yang berada dalam kafetaria itu mengarahkan pandangan ke meja kami.

Baru saja hendak angkat bicara, mendadak wajah adik berubah menjadi merah padam karena malu mendengarkan perkataan murid-murid tersebut. Air matanya sudah berlinangan, dia segera berdiri dan keluar dari kafetaria dengan tangan masih memegang kue jagung yang masih tersisa setengah.

Dengan niat baik saya berkata kepada murid yang menyodorkan nasi bekal itu: "Terima kasih banyak. Sebenarnya kamu juga tidak mudah untuk membeli makanan itu. Bukankah uang itu berasal dari orang tuamu yang mengharapkan kamu bisa menyantap makanan yang lebih baik dan bergizi, jadi makanlah sendiri nasi kotak ini."

Murid itu tertawa dengan perasaan agak sungkan, saya mendorong kembali nasi kotak itu ke depannya. Saat itu ada salah satu orang dari mereka yang berbadan besar menatap terus ke arah saya dan menunjuk ke tangan saya serta berkata: "Di tanganmu itu apa?" Saya tertawa dan menjawab: "Kue jagung kuning asli buatan ibu saya!"

"Bagaimana membuatnya, apakah enak?" Saya menjelaskan proses pembuatan kue jagung itu kepada mereka, lalu terakhir saya tambahkan, "Buatan dari ibu sendiri, bagaimana bisa tidak harum dan nikmat untuk dimakan?"

Selesai mendengarkan perkataan saya, anak berbadan besar tersebut menghela napas panjang, memalingkan kepala dan berkata kepada teman-temannya: "Ah, saya benar-benar rindu dengan bakpao buatan ibu, tidak tahu kapan bisa ada liburan sekolah." Saat itu beberapa temannya yang lain menengok ke tangan saya dan berkata, "Sobat, apakah kami bisa mencicipi kuemu itu?"

Dengan segera saya membagikan kue jagung itu kepada mereka, dan masing-masing orang menikmati kue itu. Lantas saya berdiri dari tempat duduk dan memberitahu mereka bahwa saya harus mencari adik saya. Anak yang berbadan besar itu menarik tangan saya dan berkata: "Tadi maaf sekali ya, tolong sampaikan permintaan maaf kami kepada adikmu." Lalu kami saling tukar nomor kamar kos, sungguh tidak disangka, hari pertama masuk sekolah sudah bisa berkenalan dengan beberapa orang.

Saya menemukan adik sedang duduk termenung seorang diri di belakang halaman sekolah, kue jagung dia letakkan ke samping. Peristiwa dalam kafetaria tadi benar-benar merisaukan hatinya, membuat tangannya tak henti-hentinya mengusap air mata yang meleleh keluar. Dia merasa malu untuk mengikuti pelajaran, malu bergaul dengan guru dan siswa lainnya. Dia menoleh ke arah saya dan berteriak keras: "Daripada di sini jadi malu lebih baik pulang ke rumah saja!"

Saya duduk di sampingnya, menunggu gejolak hatinya agak tenang lalu berkata: "Beberapa kata saja dari anak-anak itu sudah membuat hatimu tersentuh. Ah, Sebenarnya yang bisa melukaimu itu adalah dirimu sendiri! Jika kamu memandang rendah pada diri sendiri, merasa makan kue jagung itu memalukan, maka perkataan dari orang lain akan menusuk telingamu, tingkah laku orang lain tidak akan enak kamu pandang, pasti akan menjadi emosi. Jika hati sudah tertata dengan baik dan bisa menerima, bila kamu kuat, walau keluarga kita miskin lalu apa salahnya? Baik miskin atau kaya, menjadi orang harus secara terbuka dan penuh martabat, jadilah orang baik, janganlah terlalu memandang penting sifat suka berlagak pada permukaan seseorang."

Adik terdiam sejenak lalu bertanya lirih: "Orang baik, bagaimana caranya menjadi orang baik?" Saya memungut kue jagung yang tergeletak disampingnya, lalu menyodorkan kue tersebut kepada adik lalu dan mengatakan dengan tegas, "Sejati, Baik, Sabar." [Roswati Lim / Mataram / Tionghoanews]

ARTIKEL YANG BERKAITAN

Mari kita dukung kiriman artikel-artikel dari teman-teman Tionghoa, dengan cara klik "SUKA" dan teruskan artikel kesukaan Anda ke dalam facebook, twitter & googleplus Anda.

TERBARU HARI INI

ARTIKEL: INTERNASIONAL

ARTIKEL: BUDAYA

ARTIKEL: KESEHATAN

ARTIKEL: IPTEK

ARTIKEL: KISAH

ARTIKEL: BERITA